jadIah eNgaKAu spt MutiaRa yg KehAdirannyA bgitU diNanti, KehaDirannYA bGtU memUkaU& KeprgIAannYa meNInggalKan bekas Yg BerNiLai

“Assalamu’alaikum,,,” sepi tidak ada yang menjawab. Aku bingung,,,

” Assalamu’alaikum,,,, da,,, aku pulang,,,,” lagi-lagi sunyi, hanya gaung suara ku saja. Oh ya aku lupa kalau kau sudah pindah rumah. Ke rumah istrimu pastinya. Annisa merebahkan tubuhnya di sofa yang kini telah mulai berdebu. Entah sudah berapa lama dia tidak ke rumah ini.

Dia mulai melangkahkan kakinya menyusuri setiap sudut ruangan, memperhatikan dengan seksama. Ah… tidak ada yang berubah, masih sama seperti dahulu ketika ia meninggalkan rumah tersebut. Foto-foto itu masih terpajang dengan rapi di atas meja. Ayah, Ibu, aku dan juga foto mu da.

Ternyata tidak terasa ya semenjak kecelakaan itu yang menewaskan ayah dan ibu tercinta. Ya,,, peristiwa yang membuat ku shock berat. Kau yang menjaga dan merawat ku sampai akhirnya aku benar-benar pulih dari keadaan dan juga luka-luka yang ada di tubuh ini. Di usia mu yang seharusnya sudah cukup untuk menggenapkan setengah Dien mu, kau abaikan demi menjaga ku.

“krek,,,krek,,krek,,,” aku menoleh ke arah suara. Ah,, angin rupanya.

Taman belakang yang mengingatkan ku dimana kita sekeluarga bergembira di kala sore hari ataupun disaat Ayah dan Ibu libur kerja beramai-ramai kita semua bercanda tawa di sana. Masih segar rumput-rumput itu, ah iya aku lupa halaman belakang rumah kan tidak beratap. Jadi ketika hujan turun langsung menyirami rumput-rumput tersebut. Ku hirup udara yang semakin sejuk dan ku hempaskan perlahan. Ah,, Allah,,, betapa besar karunia Mu, nikmatMu, ucap syukur ku panjatkan. Kolam renang airnya sudah tidak terawat, hijau dan banyak lumut di setiap dinding kolam nya. Sepertinya,,, aku harus kerja lebih keras liburan ini.

Annisa kembali melangkahkan kakinya menyusuri sudut ruangan yang lain, hingga akhirnya di berada di salah satu kamar di lantai 2. Kamar ini sepertinya berbeda dari ruang tamu di lantai 1, lebih bersih dan terawat. Ya,, kamar itu adalah miliknya.  Annisa berpikir sejenak dan bergumam dalam hati.

“aneh,,, seharusnya kamar ini sama kotornya dengan ruang tamu dan juga yang lainnya. Apakah ada orang lain selain aku yang datang ke rumah ini? tapi siapa?”

Pertanyaan itu terus menggelayuti benaknya.Mata elangnya terus menyusuri sudut ruangan itu hingga akhirnya dia pun menemukan secarik kertas bersampul biru tergeletak di meja rias. Dibukanya perlahan amplop biru itu dan dibacanya. Hanya sebuah nasehat, tapi tidak ada dari siapa yang menulisnya.

“Aku minta kepada Allah setangkai bunga segar, DIA beri aku kaktus berduri. Ku minta pada Allah hewan mungil nan cantik, DIA beri aku ulat bulu. Ku sempat sedih , kecewa dan protes, betapa tidak adilnya ini… namun kemudian …. kaktus itu berbunga, sangat indah sekali, dan ulatpun tumbuh menjadi kupu-kupu yang teramat cantik… itulah jalan dari Nya INDAH PADA WAKTUNYA… DIA tidak memberi apa yang kita harapkan tetapi memberi apa yang kita perlukan.. walau kadang sedih,kecewa,terluka.. TAPI JAUH DI ATAS SEGALANYA ADALAH… bahwa DIA merajut yang terbaik untuk kita…”

Tiba-tiba kristal bening sudah menggenang di kedua pelupuk matanya.

~ bersambung~

created by : dafa ( lina )

October 29th, 2008 at 5:22 am and tagged ,  | Comments & Trackbacks (1) | Permalink