jadIah eNgaKAu spt MutiaRa yg KehAdirannyA bgitU diNanti, KehaDirannYA bGtU memUkaU& KeprgIAannYa meNInggalKan bekas Yg BerNiLai
<

Rabu, 03 Januari 2007
Berita Kematian
Oleh : Asro Kamal Rokan

Halaman depan surat kabar harian kemarin, berwajah suram. Berita musibah, tragedi, dan kematian.

Inilah berita-berita yang dimuat hampir semua surat kabar itu: Pesawat Boeing 747-400 Adam Air dinyatakan hilang di sekitar Sulawesi Barat Nasib 102 penumpang belum diketahui. Bagian lain halaman sama diberitakan, lebih 200 orang penumpang Kapal Motor Senopati Nusantara dinyatakan hilang ketika kapal itu tenggelam di perairan Jepara, Jawa Tengah. Masih di halaman yang sama, diberitakan pula tentang eksekusi terhadap mantan Presiden Irak, Saddam Hussein.

Awal tahun yang perih di saat umat manusia di muka bumi berharap terjadinya perubahan dalam hidup mereka. Perubahan menuju kebaikan, semua orang menginginkannya. Namun kematian, musibah, dan tragedi, datang sangat tiba-tiba, bahkan lebih cepat dari kerdipan mata.

Setiap musibah, tragedi, dan tentu kematian tentulah –dan semestinya– menyadarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang sama sekali tidak berdaya, tak dapat mencegah, bahkan tak mampu menunda apa pun.

Kematian bisa datang lebih cepat sebelum penumpang Adam Air meneguk jus apel pemberian pramugari. Namun kematian juga bisa datang bertatih-tatih dan merangkak. Ratusan penumpang kapal Senopati Nusantara, melihat kematian datang perlahan. Tidak ada tempat bagi mereka berlindung, tidak ada tali bagi mereka bergantung, ketika maut menggapainya di tempat tersembunyi dan tinggi sekali pun.

Kekuasaan pun tak dapat menolong seorang dari kematian. Sadam Hussein, betapa gagah mantan Presiden Irak itu. Seutas tali telah merenggut nyawa dari tubuhnya –seutas tali yang sangat tidak berarti apa-apa dibanding popularitas dan pengaruh semasa ia berkuasa. Kehidupan sesungguhnya adalah tawanan abadi kematian. Tidak ada alat, uang, kekuasaan, dan harta yang bisa menebusnya. Tidak juga istri dan anak-anak tercinta. Manusia hanya menunggu saatnya tiba. Tidak detik ini, mungkin menit berikutnya. Tidak ketika tertawa, mungkin ketika tersenyum.

“Dan ketahuilah,” tulis Ali bin Abi Thalib dalam surat wasiat kepada putranya, Al Hasan, “engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia fana ini. Untuk sirna, bukan untuk abadi. Untuk mati, bukan untuk hidup selamanya. Bahwa posisimu adalah posisi berangkat untuk mengumpulkan bekal. Dan, bahwa engkau tengah berjalan menuju akhirat. Bahwa engkau tengah dikejar oleh kematian. Tidak ada makhluk yang dapat lari dari kematian. Karena itu, hati-hatilah selalu dengan kematian. Jangan sempat engkau dijemput kematian ketika engkau tengah dalam kondisi buruk.”

Kematian datang dengan caranya. Dia tak pernah malas dan lupa menjemput kita, baik ketika berada di udara, di laut, dan di darat. Ketika naik pesawat maupun berjalan kaki. Ketika makan, maupun saat berhenti. Ketika bangun, maupun tidur. Tak ada tempat bersembunyi, tak ada tawar-menawar. Lalu, ketika waktunya tiba, mengapa menyesalinya?

Kita sedang dikejar kematian, tak bisa lari, apalagi bersembunyi.

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=277444&kat_id=19

January 8th, 2007 at 3:00 am